JAKARTA, KOMPAS.com -
Warga korban banjir Kampung Pulo, Kelurahan Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta
Timur mulai menengok rumah mereka. Wakil Camat Jatinegara Manson Sinaga
mengatakan, banjir di permukiman warga mulai surut.
Sebagian warga meninjau rumahnya untuk membersihkan endapan lumpur. "Sebagian sudah ada yang bersih-bersih rumah dari endapan lumpur. Walau mereka belum bisa kembali untuk tinggal dan beraktivitas sebagaimana biasa," kata Manson, Sabtu (1/2/2014).
Dia berharap hujan tidak turun lagi dan tidak ada lagi kiriman air dari Katulampa supaya para pengungsi bisa berangsur kembali ke rumah mereka dalam satu atau dua hari ke depan.
Manson menambahkan, air dengan ketinggian 30 sampai 150 sentimeter masih menggenangi RW 01, 02, 03, 04, 05, 06, 07 Kelurahan Kampung Melayu. Warga sekitar 3203 jiwa masih mengungsi di Suku Dinas Kesehatan, Masjid At Tawabin, RS Hermina, Jalan Jatinegara Barat, Bekas Bengkel Trimatra, Madrasah Bantul Khoir dan GPIB Koinonia.
Sedangkan sebagian warga memilih untuk mengungsi di GOR Otista Bidara Cina. Tercatat sebanyak 512 warga pengungsi berasal dari Kelurahan Kampung Melayu dan 2146 berasal dari Kelurahan Bidara Cina.
Sebagian warga meninjau rumahnya untuk membersihkan endapan lumpur. "Sebagian sudah ada yang bersih-bersih rumah dari endapan lumpur. Walau mereka belum bisa kembali untuk tinggal dan beraktivitas sebagaimana biasa," kata Manson, Sabtu (1/2/2014).
Dia berharap hujan tidak turun lagi dan tidak ada lagi kiriman air dari Katulampa supaya para pengungsi bisa berangsur kembali ke rumah mereka dalam satu atau dua hari ke depan.
Manson menambahkan, air dengan ketinggian 30 sampai 150 sentimeter masih menggenangi RW 01, 02, 03, 04, 05, 06, 07 Kelurahan Kampung Melayu. Warga sekitar 3203 jiwa masih mengungsi di Suku Dinas Kesehatan, Masjid At Tawabin, RS Hermina, Jalan Jatinegara Barat, Bekas Bengkel Trimatra, Madrasah Bantul Khoir dan GPIB Koinonia.
Sedangkan sebagian warga memilih untuk mengungsi di GOR Otista Bidara Cina. Tercatat sebanyak 512 warga pengungsi berasal dari Kelurahan Kampung Melayu dan 2146 berasal dari Kelurahan Bidara Cina.
Kritik
Banjir Jakarta,
fenomena macam ini sudah mendarah daging bagi rakyat jakarta, bahkan banjir
sudah berlangsung sejak zaman reformasi saat Indonesia sedang gencar-gencarnya
melakukan pembangunan khususya di daerah jabodetabek, menurut saya banjir di
jakarta tak akan terselesaikan sampai kapitalisme hengkang dari Indonesia,
mengapa?
Pertama, semakin menipisnya daerah resapan air
Jakarta, yaitu Bogor. Semakin bertambahnya pembangunan villa dan penginapan di
kawasan puncak menjadi penyebab utama banjir di Jakarta karena semakin banyak hutan
yang di jarah. Ini bukan satu-satunya penyebab, tata kota yang buruk juga
menjadi penyebabnya, daerah bantaran kali ciliwung yang sejatinya digunakan
untuk saluran air kota malah dijadikan pemukiman, dan DAM air disekitar sana
beralih menjadi TPS.
Mengapa
semua ini diakibatkan kapitalisme? Karena kapitalisme lah yang menyebabkan para
pemilik modal berlomba-lomba membangun villa di daerah resapan air, untuk
mengejar keuntungan pribadi menomor duakan kepentingan umat.
Hanya
islamlah yang pantas sebagai solusi dari permasalahan Jakarta, karena islam
menghasilkan para pemimpin yang selain berkaliber sebagai pengayom umat juga
keterikatan dengan syara yang kuat, sehingga jika terjadi penyelewengan yang
dilakukan akan segera teratasi degan sistem uqubat yang kuat. Dan islam juga
membuat benteng iman pada setiap masyarakatnya, sehingga mencegah terjadinya
penyalah gunaan fasilitas umum.
Karya
: Ahmad Thoriq izzuddin & Muhammad Akmal Adardha.
0 komentar:
Posting Komentar